Nuzaibah Binti Ka’ab Sang Perisai Rasulullah, Wanita yang Kematianya Disambut Malaikat
Senin, 28 Januari 2019
Edit
Bahkan kematianya mengundang ribuan malaikat buat menyambutnya,Hari itu nusaibah sedang berada di dapur.
Suaminya said, sedang beristirahat dibilik tempat tidur, datang-datang terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yg runtuh, nusaibah menduga itu pasti tentara musuh.
Memang beberapa hari ini ketegangan memuncak di daerah gunung uhud. Dengan bergegas nusaibah meninggalkan apa yg sedang dilakukannya & masuk ke bilik.
Suaminya yg sedang tertidur dengan halus & lembut dikejutkannya.’Suamiku tersayang’, nusaibah berkata,
“Aku mendengar pekik suara menuju ke uhud” mungkin orang-orang kafir telah menyerang”.
Said yg masih belum sadar sepenuhnya, tersentak, beliau menyesal mengapa bukan beliau yang mendengar bunyi itu. Malah isterinya.
Dia segera bangun & mengenakan pakaiyan perangnya. Sewaktu iya menyiapkan kuda, nusaibah menghampiri, dia menyodorkan pedang pada said.
“Suamiku, bawalah pedang ini, jangan pergi sebelum menang”.
Said memandang paras isterinya. Setelah mendengar perkataan itu, tak pernah terdapat keraguan padanya buat pergi kemedan perang.
Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap bunyi langkah kuda menuju ke utara, said pribadi terjun kemedan pertempuran yg sedang berkecambuk.
Di satu sudut yg lain, rasulullah melihatnya & tersenyum kepadanya, senyum yang nrimo itu semakin mengobarkan keberanian said.
Di rumah, nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, amar yg baru berusia 15 thn dan saad yg dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas.
Ketika itulah datang-tiba ada seorang penunggang kuda yg nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari rasulullah,” menyampaikan sipenunggang kuda, “suami bunda, said baru saja gugur dimedan perang, beliau syahid…” Nusaibah tertunduk sementara waktu, inna lillah…” gumanya, suamiku telah menang perang. Terimakasih, ya allah.”
Setelah pemberi liputan itu meninggalkan tempat, nusaibah memanggil amar, iya tersenyum kepadanya ditengah tangis yang tertahan…
“Amar, kau lihat bunda menangis.? Ini bukan air mata murung mendengar ayahmu sudah syahid. Aku sedih karna tdk mempunyai apa-apa lagi buat diberikan bagi para pejuang nabi. Maukah kamu melihat ibumu bahagia.?’
Amar mengangguk, hatinya berdebar-debar.
“Ambillah kuda dikandang dan bawalah tombak, bertempurlah beserta nabi hingga kaum kafir terhafus.”
Mata amar bina. “Terimakasih ibu. Inilah yg saya tunggu semenjak berdasarkan tadi. Aku ragu, seandainya ibu tdk memberi peluang kepadaku untuk membela kepercayaan allah.”
Putra nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak oleh ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikit pun pada wajahnya. Dihadapan rasulullah. Beliau memperkenalkan diri.
“Ya rasulullah. Saya amar bin said. Aku datang buat menggantikan ayahku yang telah gugur.”
Rasulullal menggunakan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda islam yang sejati, amar. Allah memberkatimu…”
Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat berdasarkan perkemahan pada medan tempur, mereka menuju kerumah nusaibah.
Setibanya disana, perempuan yg sabar itu sedang termangu-mangu menunggu kabar, “ada warta apa gerangan.?…”
Serunya gemetar ketika oleh utusan belum lagi membuka suaranya, “apakah anakku gugur.?…”
Utusan itu menunduk sedih, “Betul…”
Inna lillah, nusaibah bergumam mini . Ia menangis.
“Kau berduka, ya ummu amar.?..”
Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku murung , siapa lagi yg akan saya berangkatkan.?… saad masih kanak-kanak.”
Mendengar itu, saad yang sedang berada sempurna disamping ibunya, menyela, “bunda. Jangan remehkan aku . Apabila engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa saad adalah putra seseorang ayah yg gagah berani.”
Nusaibah terperanjat. Ia memandang putranya. “Kau tidak takut, nak.?..”
Saad yg telah meloncat ke atas kudanya menggeleng, yakin. Sebuah senyum terhias pada wajahnya. Ketika nusaibah menggunakan akbar hati melambaikan tangannya. Saad hilang bersama utusan tentara itu.
Di arena pertempuran, saad betul-benar menampakan kemampuannya. Pemuda berusia 13 thn itu telah poly meng hempaskan nyawa orang kafir.
Hingga akhirnya tibalah ketika itu. Yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan “Allahu besar …”
Kembali rasulullah memberangkatkan utusan kerumah nusaibah.
Mendengar berita kematian itu, nusaibah meremang bulu tengkuknya.
“Hai utusan.” Ujarnya, “kau saksikan sendiri saya telah tidak mempunyai apa-apa lagi. Hanya masih tersisah diriku yg tua ini. Untuk itu izinkanlah saya ikut bersamamu ke medan perang.”
Sang utusan mengerutkan keningnya.
“Tapi kau wanita, ya ibu…”
Nusaibah tersinggug, “kamu meremehkan aku karna saya perempuan .?…
Apakah perempuan tdk ingin juga masuk ke syurga melalui jihad.?..”
Nusaibah tidak menunggu jawaban berdasarkan utusan tadi. Ia bergegas menghadap rasulullah dengan mengendarai kuda yg ada.
Tiba disana. Rasulullah mendengar semua perkataan nusaibah. Setelah itu, rasulullah pun berkata menggunakan senyum.
“Nusaibah yg dimuliakan allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara kamu kumpulkan saja obat-obatan & rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yg bertempur.”
Mendengar penjelasan nabi demikian, nusaibah pun segera menenteng obat-obatan dan berangkatlah ketengah pasukan yg sedang bertempur.
Dirawatlah mereka yg mengalami luka-luka dengan cermat. Pada suatu ketika, ketika beliau sedang menunduk & memberi minum seseorang perajurit belia yg luka-luka, datang-datang rambutnya terkena percikan darah. Nisaibah kemudian memandang.
Ternyata kepala seorang tentara islam tergolek, mati terbabat sang senjata orang kafir.
Timbul kemarahan nusaibah menyaksikan kekejaman itu.
Apalagi waktu dilihatnya rasulullah terjatuh dari kudanya dampak keningnya terserempet anak panah musuh. Nusaibah nir bisa menunda diri lagi menyaksikan hal itu.
Ia bangkit menggunakan gagah berani. Di ambilnya pedang perajurit yg tewas itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagaikan singa betina, dia mengamuk.
Musuh banyak terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga dalam suatu ketika ada seseorang kafir yg mengendap dari arah belakang, dan langsung menebas putus lengan kirinya.
Nusaibah pun terjatuh, terinjak-injak oleh kuda. Peperangan terus berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga tubuh nusaibah ternggok sendirian.
Tiba-datang ibnu mas’ud menunggang kudanya, mengawasi jikalau-bila terdapat orang yg mampu di tolongnya.
Sahabat itu, begitu melihat ada tubuh yg bergerak-mobilitas menggunakan susah payah, beliau segera mendekatinya, di percikannya air kemuka tubuh itu.
Akhirnya ibnu mas’ud mengenalinya.
“Isteri said kah engkau .?…”
Nusaibah samar-samar memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana menggunakan rasulullah.?… selamatkah baginda.?…”
“Baginda rasulullah nir kurang suatu apapun…”
“Engkau ibnu mas’ud, bukan.?.. Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku…”
“Engkau masih terluka parah, nusaibah..”
“Engkau mau menghalangi saya untuk membela rasulullah.?…”
Terpaksa ibnu mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya, menggunakan susah payah, nusaibah menaiki kuda itu. Lalu menderapkannya menuju ke medan pertempuran.
Banyak musuh yang pada jungkir balikkanya. Tetapi karna tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung jua lehernya terbabat putus sang sabetan pedang musuh.
Gugurlah wanita perkasa itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dia cintainya.
“Tiba-datang langit berubah mendung, hitam kelabu. Padahal tadinya langit tampak cerah dan terperinci benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasulullah kemudian mengungkapkan kepada para sahabatnya,
“Kalian lihat langit tiba-datang menghitam bukan.?.. Itu merupakan bayangan para malaikat yg beribu-ribu jumlahnya.

Mereka berduyun-duyun menyambut ke datangan arwah nusaibah. Wanita yg perkasa”
Subhanallah…
Allahu akbar…
Allahu besar …
Allahu akbar…
Tanpa pejuang sejati misalnya dia, mustahil agama islam sanggup hingga menggunakan tenang pada kita yang hayati pada jaman sekarang.
Semoga allah ‘azza wa jallah menempatkan mereka, & kita seluruh di syurga-Nya disamping rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aamiin…
Apa yang sudah kita perbuat buat menegakkan dienullah islam.???
Sumber: Muh Rai Za Babaz