Wali Allah yang Ditutupi Oleh Allah Dengan Dijadikan Gila Secara Dzohir
Jumat, 25 Januari 2019
Edit
Di kisahkan pada suatu desa, terdapat seseorang lelaki yg bernama fulan yang dianggap berkelakukan gila oleh sekitarnya entah dari mana asalnya, tak satupun dari penduduk desa itu mengetahuinya. Tiba-tiba saja hadir disana.
Kegilaannya biasa tiba dalam malam hari. Fulan akan bersyair dalam kegilaannya. Pada siang hari, terkadang ia berlari berkeliling pasar atau ikut bermain dengan anak-anak.

Para penduduk sudah biasa melihat tingkah lakunya. Mereka tidak risi dalam anak mereka karena si fulan tidak pernah menyakiti orang lain terlebih lagi ia sangat sayang dalam anak mini .
Ada saja orang yg kasihan dan membawakan kuliner untuknya untuk berbuka puasa. Setahu mereka, fulan tidak pernah terlihat berbuka siang hari. Tiada putus puasanya.
Yang lebih mengherankan lagi, fulan nir mau tidur di sembarang tempat. Ia lebih suka tidur di emper satu-satunya masjid pada desa itu. Ia selalu tidur dalam pagi hingga petang & berjaga pada malam hari.
Suatu malam, kala kegilaannya datang fulan pun bersyair:
Wahai kekasih…
Padamu aku memuji
Padamu saya berbakti
Engkaulah yang aku cintai
Wahai kekasih…
Jangan kau tinggalkan saya
Jangan kau benci aku
Jangan kau cemburui aku
Lantaran cintaku hanya untukmu
Setelah bersyair berulang-ulang memuji kekasihnya iapun mengakhiri syairnya dengan menangis.
Siang itu singgahlah seorang musafir pada masjid. Setelah sholat dhuhur ia keluar dan mendekati fulan yg sedang tidur. Ia mencoba membangunkannya. Tetapi fulan tetap saja nyenyak pada tidurnya.
“Wahai orang yang sedang tidur, tidakkah kamu ingin melaksanakan sholat dhuhur ? Janganlah engkau lewatkan saat sholatmu menggunakan tidur panjangmu”, istilah musafir itu sembari terus membangunkan fulan.
Fulan akhirnya bangun & menatap si musafir lalu berkata,
“Apa pedulimu denganku ? Aku sedang bermimpi beserta kekasihku. Namun kamu sudah mengusik keasyikanku menggunakan sang kekasih”
“Tidakkah engkau ingin melaksanakan sholat buat menyembah tuhanmu?”, tanyanya.
“Tuhan? Tuhan yang mana? Saya nir menyembah Tuhan. Tiada sedikitpun kusimpan kata Tuhan pada hatiku. Tiada Tuhan..Tiada Tuhan..”, jawabnya.
“Masya Allah, mengapa kau mengungkapkan seperti itu?”, tanyanya lagi pada fulan.
“Aku hanya memuja oleh kekasih dan tiada loka buat ilahi dihatiku”, tekannya pada jawaban.
“Apakah agamamu, wahai orang yang nir bertuhan?”, tanya oleh musafir sedikit geram karena nir percayanya oleh musafir akan perkataan si fulan.
“Aku? Aku nir beragama. Aku hanya bercinta kasih. Lalu apa agamamu?”, kata fulan balik bertanya.
“Tidakkah kamu lihat aku berada dalam masjid. Tentunya aku adalah seseorang muslim”, kentara musafir masih dalam kebingungan.
“Jika engkau muslim. Aku ingin bertanya dimanakah Tuhanmu berada, wahai orang yg poly tanya?”,
Pertanyaan si fulan ini menciptakan si musafir tak bisa mengungkapkan-kata. Ia diam bagai seorang bisu. Lalu pulang meninggalkan fulan.
“Bah, engkau mengganggu tidurku saja ! Menyuruhku sholat tetapi engkau sendiri nir tahu dimana Tuhanmu berada”, istilah fulan sembari melanjutkan tidur siangnya.
Wahai kekasih… wahai kekasih…
Tidak kuat aku menahan kerinduan ini
Tiada sabar aku buat berjumpa denganmu
Tiada kuasa saya untuk menggapaimu
Wahai kekasih… Wahai pujaan hati..
Kegilaanku akan dirimu semakin menjadi
Wahai kekasih… Wahai dambaan hati..
Aku sebut selalu namamu & kupatri dalam hatiku
Musafir yang tersebut siang membangunkannya, rupanya sedang mengamati berdasarkan kejauhan segala apa yang telah diperbuat fulan. Tidak percaya pada fulan yang syair-syairnya berisikan kalimat-kalimat cinta yang indah. Tidak percaya bahwa fulan adalah seseorang yg gila.
Karena rasa bertanya-tanya dalam apa yg telah fulan perbuat tadi siang padanya, iapun berjalan mendekati fulan. & memberi salam,
“Assalamu’alaikum, wahai fulan …”.
Fulan menoleh dan membalas salamnya, “‘Waalaikumussalam…”.
“Sedang apakah engkau disini seorang diri?”, tanya musafir
“Aku sedang memuji kekasihku…”, jawabnya, “Apakah keperluanmu malam begini berada disini?” ”
“Aku sedang memperhatikanmu menurut kejauhan..”, jelasnya.
“Tidak adakah pekerjaan yg bermanfaat bagimu selain memperhatikanku dalam bersyair..”, tanya si fulan lagi.
“Aku hanya berpikir tentang isi menurut syair latif yg engkau dendangkan wahai fulan”, jawabnya.
“Mengapa engkau tidak sholat menyembah Tuhanmu?”, tanya fulan sembari berdiri
“Aku penasaran akan kata-katamu tersebut siang yang membuat saya berpikir panjang menggunakan segala yang kau ucapkan. Maukah engkau memberiku penjelasan di mana Tuhan itu berada?”, mohon musafir itu dalam fulan.
“Selama ini engkau menyembah-Nya namun engkau sama sekali tidak tahu dimana Ia berada. Sungguh sia-sia segala apa yang kamu kerjakan itu, wahai musafir..”, jelasnya,
“Tuhan itu banyak..Dan jangan sekali-kali lagi engkau mengatakan menyembah Tuhan lantaran kamu akan berada dalam kesesatan. Engkau pasti bertanya mengapa saya tidak bertuhan dan mengapa nir beragama, bukan?”,
Musafir itu menganggukkan kepala.
“Aku nir menyembah ilahi tetapi saya menyembah oleh kekasih, yaitu Allah
Subhaanahu wa Ta’ala.
Mengapa saya menyampaikan nir beragama? Lantaran Allah nir lagi memberatkannya padaku. Karena saya sudah sebagai kekasihNya. Apapun yg Dia pilihkan padaku, itulah yang terbaik buatku walau neraka yg diinginkan-Nya untukku.
Aku bersedia masuk kedalamnya menggunakan cinta kasih-Nya. Untuk apa saya menentukan sorga jika tidak sanggup sebagai kekasih-Nya dan nir sanggup berjumpa dan melihat estetika wajah-Nya yg Maha Indah itu.
Aku tulus menerima kegilaanku karena ingin selalu bercinta dengan-Nya. Inilah kehendak yg Dia inginkan untuk kebaikanku.
“Inilah kesucian cinta yg Dia inginkan dariku”, ucapnya mengungkapkan pada musafir itu.
“Astaghfirullah … Maha Suci Engkau, Ya Allah, menurut segala berpretensi buruk hamba-Mu..”, mohonnya dalam Allah sehabis mendengarkan penjelasan berdasarkan fulan.
“Tapi mengapa sewaktu saya menyuruhmu sholat tadi siang engkau menolak?”, lanjutnya.
“Apakah setiap perbuatan selalu wajib saya pamerkan kepada seluruh insan?
“Apakah engkau mengetahui kapan aku sholat tadi siang?”, fulan balik bertanya.
“Tidak…”, jawab Musafir.
“Sesungguhnya amal yg baik merupakan bila tangan kanan bersedekah tidak diketahui oleh tangan kirinya. Janganlah engkau pamerkan segala amal yang kamu lakukan karena itu semua akan menjauhkanmu menurut Allah.
Engkau akan memakan puji-pujian orang lalu engkau akan sebagai riya’ karenanya.
Bukankah tidak jauh menurut desa ini terdapat sebuah hutan? Aku pergi kesana buat melaksanakan sholat & meninggalkan tubuhku permanen terbaring dalam nyenyaknya tidur, agar orang melihat apa yg aku perbuat. Dan permanen misalnya itu pandangan mereka”, si fulan mengungkapkan.
“Lalu menggunakan apakah caranya engkau sholat bila tubuhmu kamu biarkan terbaring dalam nyenyaknya tidur di depan masjid ini?”, rasa ingin memahami musafir itu semakin menjadi.
“Aku memakai tubuh kekasihku. Yang Maha Dhohir dan Maha Bathin”, jawab si fulan & lanjutnya lagi,
“Besok siang, selesainya sholat dhuhur lihatlah tubuhku yg berbaring nyenyak di depan masjid. Jangan sekali-kali engkau merusak tidurku. Lalu pergilah kamu ke hutan sana”
“Baiklah..Saya akan menuruti perkataanmu”,
Musafir itu menyetujui permintaan fulan. Setelah memberi salam, iapun bergi meninggalkan fulan yg mulai bersyair lagi.
Keesokan harinya, sehabis terselesaikan sholat dhuhur, musafir itu memperhatikan fulan yang sedang nyenyak dalam tidurnya. Dan iapun bergegas pergi menuju hutan yang dimaksud. Dia mencari-cari dimana fulan berada.
Musafir itu sempat terkejut ketika mendapati fulan sedang melaksanakan sholat dhuhur di bawah teduhnya sebuah pohon tinggi. Ia menunggu hingga sehabis fulan melaksanakan sholat.
Setelah salam & berdo’a, fulan mendekati musafir yg semenjak tersebut dalam kebingungan.
“Wahai fulan.., saya tidak mengerti apa yang sedang kamu lakukan. Aku dapati tubuhmu terbaring pada tidur yang nyenyak pada depan masjid. Dan aku disini mendapati jua kamu yang bertubuh melaksanakan sholat. Padahal engkau katakan semalam bahwa kamu pergi kesini dengan memakai tubuh kekasihmu”, jelasnya masih belum sadar dari kebingungannya.
“Wahai anak muda, apakah kamu ragu akan kekuasaan ALLAH?”, tanya fulan. Musafir itu menggelengkan ketua.
“Allah berkuasa pada seluruh orang pilihan-Nya. Tiada tidak mungkin segala apa yg Dia perbuat. Mata yg kamu punyai itu adalah mata kasar. Jika kamu mempunyai mata halus pasti kamu tiada mendapati saya disana.
Itu hanyalah bayanganku saja. Dan tubuh asliku yang sebenarnya ada disini, berada dihadapanmu. Mengapa juga saya katakan aku menggunakan tubuh kekasihku?
Lantaran bila kamu melihat pada awal peristiwa, bahwa sebenarnya tubuh ini hanya menghijab (mendindingi) kenyataan sebenarnya. Dinding itu akan hilang apabila engkau telah menyerahkan segalanya pada Allah.
Jika kamu tiada melihat dinding itu, maka kamu telah memakai pakaian sebenarnya yaitu sandang ruh.
Tetapi aku tidak mampu menjelaskannya padamu tentang segala sesuatu mengenai ruh lantaran ruh itu merupakan urusan ALLAH. Mereka yang nir mengerti akan menghalalkan darahku”, jelasnya.
“Aku sedikit paham apa-apa yg sudah kamu jelaskan, wahai fulan”, kata musafir itu.
“Sekarang lihatlah apa yang ada dibalik jubahku ini”, kata fulan sembari menerangkan sesuatu di balik jubahnya.
Cahaya terperinci memancar berdasarkan dadanya dan menyilaukan mata musafir itu. Karena terkejut dan takjubnya akan terangnya cahaya itu, iapun pingsan. Tak berapa usang, ia sadar berdasarkan pingsan dan nir mendapati lagi fulan di sana. Ia pun berlari untuk menemui fulan yg sedang terbaring nyenyak di depan masjid.
Sesampainya disana, dia membuka selimut yg menutupi tubuh sifulan. Betapa terkejutnya lagi ia lantaran dibalik selimut itu hanya
didapati tumpukan-tumpukan batu.
“Masya ALLAH… Maha Suci Engkau, Ya… ALLAH…”, panjatnya pada keheranan.
“Ya ALLAH, siapakah fulan ini sebenarnya? Siapakah orang yg misterius ini? Siapakah seseorang penyair gila ini?”, tanyanya dalam hati.
Iapun pergi menggunakan membawa bermacam kebingungan & selalu memohon petunjuk dalam ALLAH siapa sebenarnya orang gila yang ia temui itu.
Kegilaannya biasa tiba dalam malam hari. Fulan akan bersyair dalam kegilaannya. Pada siang hari, terkadang ia berlari berkeliling pasar atau ikut bermain dengan anak-anak.
Para penduduk sudah biasa melihat tingkah lakunya. Mereka tidak risi dalam anak mereka karena si fulan tidak pernah menyakiti orang lain terlebih lagi ia sangat sayang dalam anak mini .
Ada saja orang yg kasihan dan membawakan kuliner untuknya untuk berbuka puasa. Setahu mereka, fulan tidak pernah terlihat berbuka siang hari. Tiada putus puasanya.
Yang lebih mengherankan lagi, fulan nir mau tidur di sembarang tempat. Ia lebih suka tidur di emper satu-satunya masjid pada desa itu. Ia selalu tidur dalam pagi hingga petang & berjaga pada malam hari.
Suatu malam, kala kegilaannya datang fulan pun bersyair:
Wahai kekasih…
Padamu aku memuji
Padamu saya berbakti
Engkaulah yang aku cintai
Wahai kekasih…
Jangan kau tinggalkan saya
Jangan kau benci aku
Jangan kau cemburui aku
Lantaran cintaku hanya untukmu
Setelah bersyair berulang-ulang memuji kekasihnya iapun mengakhiri syairnya dengan menangis.
Siang itu singgahlah seorang musafir pada masjid. Setelah sholat dhuhur ia keluar dan mendekati fulan yg sedang tidur. Ia mencoba membangunkannya. Tetapi fulan tetap saja nyenyak pada tidurnya.
“Wahai orang yang sedang tidur, tidakkah kamu ingin melaksanakan sholat dhuhur ? Janganlah engkau lewatkan saat sholatmu menggunakan tidur panjangmu”, istilah musafir itu sembari terus membangunkan fulan.
Fulan akhirnya bangun & menatap si musafir lalu berkata,
“Apa pedulimu denganku ? Aku sedang bermimpi beserta kekasihku. Namun kamu sudah mengusik keasyikanku menggunakan sang kekasih”
“Tidakkah engkau ingin melaksanakan sholat buat menyembah tuhanmu?”, tanyanya.
“Tuhan? Tuhan yang mana? Saya nir menyembah Tuhan. Tiada sedikitpun kusimpan kata Tuhan pada hatiku. Tiada Tuhan..Tiada Tuhan..”, jawabnya.
“Masya Allah, mengapa kau mengungkapkan seperti itu?”, tanyanya lagi pada fulan.
“Aku hanya memuja oleh kekasih dan tiada loka buat ilahi dihatiku”, tekannya pada jawaban.
“Apakah agamamu, wahai orang yang nir bertuhan?”, tanya oleh musafir sedikit geram karena nir percayanya oleh musafir akan perkataan si fulan.
“Aku? Aku nir beragama. Aku hanya bercinta kasih. Lalu apa agamamu?”, kata fulan balik bertanya.
“Tidakkah kamu lihat aku berada dalam masjid. Tentunya aku adalah seseorang muslim”, kentara musafir masih dalam kebingungan.
“Jika engkau muslim. Aku ingin bertanya dimanakah Tuhanmu berada, wahai orang yg poly tanya?”,
Pertanyaan si fulan ini menciptakan si musafir tak bisa mengungkapkan-kata. Ia diam bagai seorang bisu. Lalu pulang meninggalkan fulan.
“Bah, engkau mengganggu tidurku saja ! Menyuruhku sholat tetapi engkau sendiri nir tahu dimana Tuhanmu berada”, istilah fulan sembari melanjutkan tidur siangnya.
Wahai kekasih… wahai kekasih…
Tidak kuat aku menahan kerinduan ini
Tiada sabar aku buat berjumpa denganmu
Tiada kuasa saya untuk menggapaimu
Wahai kekasih… Wahai pujaan hati..
Kegilaanku akan dirimu semakin menjadi
Wahai kekasih… Wahai dambaan hati..
Aku sebut selalu namamu & kupatri dalam hatiku
Musafir yang tersebut siang membangunkannya, rupanya sedang mengamati berdasarkan kejauhan segala apa yang telah diperbuat fulan. Tidak percaya pada fulan yang syair-syairnya berisikan kalimat-kalimat cinta yang indah. Tidak percaya bahwa fulan adalah seseorang yg gila.
Karena rasa bertanya-tanya dalam apa yg telah fulan perbuat tadi siang padanya, iapun berjalan mendekati fulan. & memberi salam,
“Assalamu’alaikum, wahai fulan …”.
Fulan menoleh dan membalas salamnya, “‘Waalaikumussalam…”.
“Sedang apakah engkau disini seorang diri?”, tanya musafir
“Aku sedang memuji kekasihku…”, jawabnya, “Apakah keperluanmu malam begini berada disini?” ”
“Aku sedang memperhatikanmu menurut kejauhan..”, jelasnya.
“Tidak adakah pekerjaan yg bermanfaat bagimu selain memperhatikanku dalam bersyair..”, tanya si fulan lagi.
“Aku hanya berpikir tentang isi menurut syair latif yg engkau dendangkan wahai fulan”, jawabnya.
“Mengapa engkau tidak sholat menyembah Tuhanmu?”, tanya fulan sembari berdiri
“Aku penasaran akan kata-katamu tersebut siang yang membuat saya berpikir panjang menggunakan segala yang kau ucapkan. Maukah engkau memberiku penjelasan di mana Tuhan itu berada?”, mohon musafir itu dalam fulan.
“Selama ini engkau menyembah-Nya namun engkau sama sekali tidak tahu dimana Ia berada. Sungguh sia-sia segala apa yang kamu kerjakan itu, wahai musafir..”, jelasnya,
“Tuhan itu banyak..Dan jangan sekali-kali lagi engkau mengatakan menyembah Tuhan lantaran kamu akan berada dalam kesesatan. Engkau pasti bertanya mengapa saya tidak bertuhan dan mengapa nir beragama, bukan?”,
Musafir itu menganggukkan kepala.
“Aku nir menyembah ilahi tetapi saya menyembah oleh kekasih, yaitu Allah
Subhaanahu wa Ta’ala.
Mengapa saya menyampaikan nir beragama? Lantaran Allah nir lagi memberatkannya padaku. Karena saya sudah sebagai kekasihNya. Apapun yg Dia pilihkan padaku, itulah yang terbaik buatku walau neraka yg diinginkan-Nya untukku.
Aku bersedia masuk kedalamnya menggunakan cinta kasih-Nya. Untuk apa saya menentukan sorga jika tidak sanggup sebagai kekasih-Nya dan nir sanggup berjumpa dan melihat estetika wajah-Nya yg Maha Indah itu.
Aku tulus menerima kegilaanku karena ingin selalu bercinta dengan-Nya. Inilah kehendak yg Dia inginkan untuk kebaikanku.
“Inilah kesucian cinta yg Dia inginkan dariku”, ucapnya mengungkapkan pada musafir itu.
“Astaghfirullah … Maha Suci Engkau, Ya Allah, menurut segala berpretensi buruk hamba-Mu..”, mohonnya dalam Allah sehabis mendengarkan penjelasan berdasarkan fulan.
“Tapi mengapa sewaktu saya menyuruhmu sholat tadi siang engkau menolak?”, lanjutnya.
“Apakah setiap perbuatan selalu wajib saya pamerkan kepada seluruh insan?
“Apakah engkau mengetahui kapan aku sholat tadi siang?”, fulan balik bertanya.
“Tidak…”, jawab Musafir.
“Sesungguhnya amal yg baik merupakan bila tangan kanan bersedekah tidak diketahui oleh tangan kirinya. Janganlah engkau pamerkan segala amal yang kamu lakukan karena itu semua akan menjauhkanmu menurut Allah.
Engkau akan memakan puji-pujian orang lalu engkau akan sebagai riya’ karenanya.
Bukankah tidak jauh menurut desa ini terdapat sebuah hutan? Aku pergi kesana buat melaksanakan sholat & meninggalkan tubuhku permanen terbaring dalam nyenyaknya tidur, agar orang melihat apa yg aku perbuat. Dan permanen misalnya itu pandangan mereka”, si fulan mengungkapkan.
“Lalu menggunakan apakah caranya engkau sholat bila tubuhmu kamu biarkan terbaring dalam nyenyaknya tidur di depan masjid ini?”, rasa ingin memahami musafir itu semakin menjadi.
“Aku memakai tubuh kekasihku. Yang Maha Dhohir dan Maha Bathin”, jawab si fulan & lanjutnya lagi,
“Besok siang, selesainya sholat dhuhur lihatlah tubuhku yg berbaring nyenyak di depan masjid. Jangan sekali-kali engkau merusak tidurku. Lalu pergilah kamu ke hutan sana”
“Baiklah..Saya akan menuruti perkataanmu”,
Musafir itu menyetujui permintaan fulan. Setelah memberi salam, iapun bergi meninggalkan fulan yg mulai bersyair lagi.
Keesokan harinya, sehabis terselesaikan sholat dhuhur, musafir itu memperhatikan fulan yang sedang nyenyak dalam tidurnya. Dan iapun bergegas pergi menuju hutan yang dimaksud. Dia mencari-cari dimana fulan berada.
Musafir itu sempat terkejut ketika mendapati fulan sedang melaksanakan sholat dhuhur di bawah teduhnya sebuah pohon tinggi. Ia menunggu hingga sehabis fulan melaksanakan sholat.
Setelah salam & berdo’a, fulan mendekati musafir yg semenjak tersebut dalam kebingungan.
“Wahai fulan.., saya tidak mengerti apa yang sedang kamu lakukan. Aku dapati tubuhmu terbaring pada tidur yang nyenyak pada depan masjid. Dan aku disini mendapati jua kamu yang bertubuh melaksanakan sholat. Padahal engkau katakan semalam bahwa kamu pergi kesini dengan memakai tubuh kekasihmu”, jelasnya masih belum sadar dari kebingungannya.
“Wahai anak muda, apakah kamu ragu akan kekuasaan ALLAH?”, tanya fulan. Musafir itu menggelengkan ketua.
“Allah berkuasa pada seluruh orang pilihan-Nya. Tiada tidak mungkin segala apa yg Dia perbuat. Mata yg kamu punyai itu adalah mata kasar. Jika kamu mempunyai mata halus pasti kamu tiada mendapati saya disana.
Itu hanyalah bayanganku saja. Dan tubuh asliku yang sebenarnya ada disini, berada dihadapanmu. Mengapa juga saya katakan aku menggunakan tubuh kekasihku?
Lantaran bila kamu melihat pada awal peristiwa, bahwa sebenarnya tubuh ini hanya menghijab (mendindingi) kenyataan sebenarnya. Dinding itu akan hilang apabila engkau telah menyerahkan segalanya pada Allah.
Jika kamu tiada melihat dinding itu, maka kamu telah memakai pakaian sebenarnya yaitu sandang ruh.
Tetapi aku tidak mampu menjelaskannya padamu tentang segala sesuatu mengenai ruh lantaran ruh itu merupakan urusan ALLAH. Mereka yang nir mengerti akan menghalalkan darahku”, jelasnya.
“Aku sedikit paham apa-apa yg sudah kamu jelaskan, wahai fulan”, kata musafir itu.
“Sekarang lihatlah apa yang ada dibalik jubahku ini”, kata fulan sembari menerangkan sesuatu di balik jubahnya.
Cahaya terperinci memancar berdasarkan dadanya dan menyilaukan mata musafir itu. Karena terkejut dan takjubnya akan terangnya cahaya itu, iapun pingsan. Tak berapa usang, ia sadar berdasarkan pingsan dan nir mendapati lagi fulan di sana. Ia pun berlari untuk menemui fulan yg sedang terbaring nyenyak di depan masjid.
Sesampainya disana, dia membuka selimut yg menutupi tubuh sifulan. Betapa terkejutnya lagi ia lantaran dibalik selimut itu hanya
didapati tumpukan-tumpukan batu.
“Masya ALLAH… Maha Suci Engkau, Ya… ALLAH…”, panjatnya pada keheranan.
“Ya ALLAH, siapakah fulan ini sebenarnya? Siapakah orang yg misterius ini? Siapakah seseorang penyair gila ini?”, tanyanya dalam hati.
Iapun pergi menggunakan membawa bermacam kebingungan & selalu memohon petunjuk dalam ALLAH siapa sebenarnya orang gila yang ia temui itu.